Reduplikasi dan Jenis-Jenisnya –
1. Kata ulang sebagian
Kata ulang sebagian disebut juga dwipurwa, yaitu pengulangan pada suku awal sebuah kata.
Contoh :
– Bisik-bisik tetangga, kini mulai terdengar lagi
– Hutan dan kekayaan alam alam ini adalah warisan para leluhur.
2. Kata ulang utuh atau penuh
Kata ulang utuh disebut juga dwilingga, yaitu pengulangan seluruh bentuk dasar suatu kata termasuk kata berimbuhan.
Contoh :
– Mobil-mobil mewah itu berjajar di depan rumah Pak Walikota
– Tsunami itu telah memporak-porandakan rumah-rumah penduduk.
– Aku sudah muak dengan janji-janji busukmu itu.
– Kejadian-kejadian itu menyadarkanku bahwa kekuasaan Allah tidak ada batasnya.
3. Kata ulang berubah bunyi
Kata ulang ini disebut juga dwilingga salin suara, Yaitu pengulangan seluruh bentuk dasar yang salah satunya mengalami perubahan suara pada suatu fonem atau lebih.
Contoh:
– Gerak-geriknya mencurigakan
– Paman berkebun sayur-mayur, sehingga setiap datang ke rumahku pasti membawa sayuran.
4. Kata ulang berimbuhan
Yaitu jenis reduplikasi yang mendapat imbuhan, baik pada kata pertama maupun pada kata kedua. Contoh:
– Adik bermain-main di halaman.
– Besi berani itu saling tarik-menarik.
5. Kata ulang semu
Kata yang sebenarnya bukan kata ulang, tetapi bentuk dasar kata ini menyerupai kata ulang.
Contoh:
– Ada laba-laba sedang membuat sarang.
– Menyentuh ubur-ubur bisa membuat kulit gatal.
– Di musim semi, banyak kupu-kupu menghinggapi bunga.
– Empek-empek cukup sedap jika dinikmati pada hari yang dingin.
Komposisi dalam peristilahan
Untuk pembicaraan komposisi, Fokker (1951) menggunakan istilah kelompok kata, yang dibedakannya atas kelompol longgar dan kelompok erat. Dengan kelompok longgardimaksudkan untuk kelompok kata yang hubungan antara unsur-unsurnya bersifat tidak mengikat. Sedangkan yang dimaksud dengan kelompok erat adalah kelompok yang hubungan antara unsur-unsurnya bersifat erat dan tidak erat dan tidak dapat dipisahkan. Kalau dibandingkan dengan peristilahan yang digunakan Alisyahbana, maka kelompok longgar sama dengan yang bukan kata majemuk dan kelompok erat sama dengan kata majemuk.
1. Aspek simantik komposisi
Tujuan utama membentuk komposisi adalah untuk menampung atau mewadahi konsep-konsep yang ada dalam kehidupan kita tetapi belum ada wadahnya dalam bentuk sebuah kata. a. Komposisi yang menampung konsep-konsep yang digabungkan sederajat, sehingga membentuk komposisi yang koordinatif. Misalnya, penggabungan dasar makan dan dasar minum menjadi komposisi makan minum..
Contoh lain: baca tulis ‘baca dan tulis’
b. Komposisi yang menampung konsep-konsep yang digabung tidak sederajat, sehingga Makna gramatikal komposisi subirdinatif ini memang tergantung pada komponen makna yang dimiliki unsur kedua. Seperti pada contoh diatas pada sate ayam, dasar ayam memiliki komponen makna (+ bahan); pada contoh kedua dasar madura memiliki komponen makna (+tempat); dan pada contoh ketiga dasar lontong memiliki komponen makna (+campuran). Bagaimana dengan makna gramatikal sate pak kumis? Unsur pak kumis memiliki komponen makna (+pembuat). Jadi, komposisi sate pak kumis memiliki makna gramatikal ‘sate buatan pak kumis’.
c. Komposisi yang menghasilkan istilah, yakni yang maknanya sudah pasti, sudah tertentu, meskipun bebas dari konteks kalimatnya Beberapa contoh istilah dalam bentuk komposisi:
d. Komposisi pembentuk idiom, yakni penggabungan dasar dengan dasar yang menghasilkan makna idiomatik, yaitu makna yang tidak dapat diprediksi secara leksikal dan maupun gramatik. Misalnya, penggabungan meja dengan dasar hijau yang menghasilkan komposisi meja hijau dengan makna ‘pengadilan’. Berikut adalah contoh komposisi idiomatik lainnya:
– Memeras keringat ‘bekerja keras’
– Membanting tulang ‘bekerja keras’
– Menjual gigi ‘tertawa keras-keras’
– Berat tapseng ‘sudah tua’
– Bau kecur ‘(masih) kanak-kanak’
2. Pengembangan komposisi
Bahwa maksud utama pembentukkan komposisi adalah untuk mewadahi konsep-konsep yang ada dalam kehidupan nyata tetapi belum ada kosakatanya dalam bentuk tunggal.
a. Komposisi Nomina
Komposisi nomina adalah komposisi yang pada satuan klausa berkategori nomina. Misalnya,komposisi kakek nenek dan baju baru pada kedua kalimat berikut:
– Kakek nenek pergi berlebaran.
– Mereka memakai baju baru.
Pengisi fungsi subjek komposisi kakek nenek berkatagori nomina dan pengisi fungsi objek komposisi baju baru juga berkategori nomina. Komposisi nominal dapat dibentuk dari dasar: nomina+ nomina, kakek nenek+meja kayu. (Abdul Chaer,2008:216)
Komposisi Nominal Bermakna Gramatikal
Makna gramatikal adalah makna yang muncul dalam proses penggabungan dasar dengan dasar dalam pembentukan sebuah komposisi. Makna gramatikal pembentukan komposisi nominal antara lain: (Abdul Chaer,2008:217)
Komposisi Nominal Bermakna Idiomatikal
Komposisi nominal memiliki makna idiomatik,baik berupa idiom penuh maupun berupa idiom sebagian. Idiom penuh artinya seluruh komposisi itu memiliki makna yang tidak dapat diprediksi secara leksikal maupun secara gramatikal. Misalnya, orang tua,dalam arti ayah ibu.
Apabila idiomatic dalam konteks kalimatnya. Misalnya,semua orang tua murid sudah hadir di aula. Sedangkan komposisi orang tua dalam kalimat. Misalnya,”siapa nama orang tua yang duduk di sana itu?”
Komposisi yang berupa idiom sebagian adalah yang salah satu unsurnya masih memiliki makna leksikalnya,seperti komposisi daerah hitam. Kata daerah pada komposisi daerah hitam masih memiliki makna leksikalnya. Sedangkan makna idiomatik adalah kata hitam. (Abdul Chaer,2008:222)
Komposisi Nominal Metaforis
Komposisi nominal yang salah satu unsurnya digunakan secara metaforis, yakni dengan mengambil salah satu komponen makna yang dimiliki oleh unsur tersebut. Misalnya,unsur kaki pada komposisi kaki gunung diberi makna metaforis dari komponen makna kaki (+terletak pada bagian bawah). (Abdul Chaer,2008:223)
Komposisi Nominal Nama dan Istilah
Sebagian nama atau istilah komposisi ini tidak bermakna gramatikal,tidak bermakna idiomatik,juga tidak bermakna metaforis. Misalnya, nama“Apotik Rini” istilah“suku cadang”. (Abdul Chaer,2008:224)
Komposisi Nominal dengan Adverbia
Makna komposisi nominal dengan adverbial ditentukan oleh makna “leksikal”. Adverbial yang menyatakan negasi yaitu bukan,tiada dan tanpa dan adverbial menyatakan jumlah yaitu berapa, banyak,sedikit,sejumlah,jarang,kurang. Misalnya, -bukan anjing,- tiada air. (Abdul Chaer,2008:224)
Komposisi Verbal Bermakna Gramatikal
Proses pembentukan komposisi verbal muncul beberapa makna gramatikal,antara lain adalah makna yang menyatakan: (Abdul Chaer,2008:226)
1.’gabungan biasa’kedua unsurnya dapat disipkan kata dan.
a.kedua unsurnya memiliki komponen makna yang sama,sebagai dua buah kata bersinonim. Misalnya,bimbang ragu,bujuk rayu,caci maki.
b.kedua unsurnya merupakan anggota dari satu medan makna. Misalnya, belajar mengajar.
c.kedua unsurnya merupakan pasangan berantonim. Misalnya,jual beli,jatuh bangun.
2.’gabungan mempertentangkan’ kedua unsurnya dapat disisipkan kata atau. Apabila kedua unsurnya merupakan pasangan berantonim. Misalnya,hidup mati,gerak diam,pulang pergi.
3.’sambil’ kedua unsurnya dapat disisipkan kata sambil. Apabila kedua unsur itu merupakan dua tindakan yang dapat dilakukan bersamaan,hanya unsur pertama harus memiliki komponen makna (+tindakan) dan (+gerak),sedangkan unsur kedua memiliki komponen makna (+ tindakan) dan (+gerak). Misalnya, datang membawa,datang menangis.
Komposisi Verbal Bermakna idiomatikal
Komposisi verbal yang bermakna idiomatikal, yaitu makna yang tidak dapat ditelusuri atau diprediksi baik secara leksikal maupun gramatikal. Misalnya, makan garam dalam arti ‘pengalaman’, makan kerawat dalam arti ‘sangat miskin’.
Komposisi verba bermakna idiomatikal ini berstruktur verba + nomina atau berupa klausa predikat + objek atau objek + pelengkap. Namun maknanya bukan makna gramatikal atau makna sintaktikal melainkan makna idiomatikal tersebut.
Berkenaan dengan konstruksi predikat + objek ini, maka makna verba yang menjadi predikat itu sangat bergantung pada nomina, sebagai objek yang mengikutinya. Contoh, (a) bermakna gramatikal, contoh, makan tempe, makan tahu. (b) bermakna idiomatikal. Contoh, makan tangan, makan hati. (c) bermakna polisemi. Contoh, makan ongkos, makan waktu. (Abdul Chaer,2008:229)
Komposisi Verbal dengan Adverbia
Verba sebagai pengisi fungsi predikat dalam sebuah klausa sering kali didampingi oleh sebuah adverbial atau lebih. Adverbial pendamping verba adalah : (Abdul Chaer,2008:231)
a. adverbia negasi : tidak, tak, tanpa.
b. adverbia kala : sudah, sedang, akan.
c. adverbia keselesaian : sudah, sedang, tengah
d. adverbia aspectual : boleh, wajib, harus
e. adverbia frekuensi : sering, jarang, pernah
f. adverbia kemunkinan : mungkin, pasti, barang kali
c. Komposisi Ajektifa
Komposisi adjektifa adalah komposisi yang pada satuan klausa, berkategori ajektifa. Misalnya, komposisi cantik molek dan kaya miskin dalam klausa berikut : (Abdul Chaer,2008:231)
– Gadis yang cantik moleh itu duduk termenung.
– Kaya miskin dihadapan Allah sama saja.
Komposisi ajektifal dapat dibentuk dari dasar :
a. Ajektifa + ajektifa, seperti tua muda, besar kecil, dan putih baru.
b. Ajektifa + nomina, seperti merah darah, keras hati, dan biru laut.
c. Ajektifa + verba, seperti takut pulang, malu bertanya, dan berani pulang.
d. Adverbia + ajektifa, seperti tidak berani, sangat indah, dan agak nakal.
Komposisi Ajektival Bermakna Gramatikal
Proses pembentukannya muncul sejumlah makna gramatikal, antara lain, adalah makna yang menyatakan : (Abdul Chaer,2008:232)
(1)‘gabungan biasa’, kedua unsurnya dapat disisipkan kata dan. Apabila kedua unsurnya :
a. Memiliki komponen makna yang sama sebagai pasangan bersinonim. Misalnya, cantik molek, gagah berani, segar bugar.
b. Memiliki komponen makna yang berkebalikan sebagai pasangan berantonim atau beroposisi. Misalnya, tua muda, besar kecil, baik buruk.
c. Memiliki komponen makna yang sejalan atau tidak bertentangan. Misalnya, bulat panjang, gemuk pendek, tinggi kurus.
Komposisi Ajektival Bermakna Idiomatikal
Komposisi ajektival bermakna idiomatikal, yakni makna yang tidak dapat diprediksi secara leksikal maupun gramatikal. Misalnya, panjang usus dalam arti ‘sabar’, tinggi hati dalam arti ‘angkuh’. (Abdul Chaer,2008:234)
Komposisi Ajektival Bermakna Adverbial
Ada dua macam adverbial yang mendampingi ajektiva untuk emmbentuk komposisi ajektival, yaitu : (Abdul Chaer,2008:234)
– Adverbia negasi : tidak.
– Adverbia derajat : agak, sama, lebih, kurang, sangat, amat, sekali.
Contoh-contoh pemakaian :
tidak bagus, tidak baik, tidak mudah, tidak lurus, dan tidak cantik.