Problema Morfologis Dalam Bahasa Indonesia

                                             
A.Problema Akibat Bentukan Baru

Pada akhir‑akhir ini, banyak sekali bentukan baru sebagai ha­sil kreasi pemakai bahasa Indonesia. Misalnya bentuk member­­hentikan, memberlakukan, keberhasilan, keterbelakangan, dikesa­nakan, dikekirikan, turinisasi, lelenisasi, duniawi, dan badani, misal­nya dalam kalimat:

1) Direktur CV “Marga” telah memberhentikan sekretarisnya.
2) Apakah Saudara tidak tahu bahwa Ketua RT telah mem­berlakukan keputusan rapat warga seminggu yang lalu?
3) Keberhasilan yang Anda capai selama ini harus Anda pertahan­kan.
4) Kita harus belajar giat agar keterbelakangan kita tidak terulang.
Bentuk memberhentikan dan memberlakukan tergolong bentuk baru sebab bentuk yang berkonstruksi demikian (yaitu prefiks + prefiks + bentuk dasar + sufiks) sebelumnya tidak di­te­mu­kan. Dari kenyataan itu, lalu timbul pertanyaan: “Apa­kah di­­benarkan suatu konstruksi yang dibentuk dengan dua prefiks?”.

memberhentikan memberlakukan

meN‑kam // berhenti meN-kan // berlaku 

ber‑ // henti ber- // laku

B.Problema Akibat Kontaminasi

Kontaminasi merupakan gejala bahasa yang menga-caukan konstruksi kebahasaan. Dua konstruksi, yang mestinya harus ber­diri sendiri secara terpisah, dipadukan menjadi satu konstruksi. Akibatnya, kon­­struksi itu menjadi kacau atau rancu artinya. Kontaminasi dalam konstruksi kata, misalnya *diper­le­bar­kan, *mengenyampingkan, *dipelajarkan. 


C.Problem Akibat Unsur Serapan

Adanya unsur bahasa asing yang terserap ke dalam bahasa Indonesia juga membuat problema tersendiri. Hal itu terlihat pa­da kekacauan dan keragu‑raguan pemakaian bentuk da­ta­data, datum‑datum, data, datum; fakta‑fakta, faktum‑faktum, fak­ta, fak­tum; alumni, alumnus, para alumni, para alumnus. Kita tahu bah­wa ka­ta data dan datum, fakta dan faktum, alumni dan alumnus ber­asal dari bahasa Latin, yang masing‑masing pa­sangan kata itu berarti ‘jamak’ dan ‘tunggal’. Ternyata, dari pa­sangan itu yang terserap ke dalam bahasa Indonesia hanyalah bentuk jamaknya, yaitu data, fakta, dan alumni, sedangkan bentuk tung­gal­­nya, yaitu datum, faktum, dan alumnus, tidak terserap ke dalam bahasa Indonesia.


D.Problema Akibat Analogi

Sebagai istilah bahasa, analogi adalah bentukan bahasa de­ngan menurut contoh yang sudah ada. Gejala analogi ini sangat pen­ting dalam pemakaian bahasa sebab pada dasarnya pema­kaian bahasa dalam penyusunan kalimat, frase, dan kata berana­logi pada contoh yang telah ada atau yang te­­­lah diketahuinya. Sebagai contoh, dengan adanya bentuk keti­dakadilan, kita dapat membentuk konstruksi ketidakberesan, ketidakbaikan, dan seterusnya; dengan adanya bentuk dikesampingkan, kita dapat membentuk konstruksi dikekanankan, dikesanakan, dikesinikan, dan seterusnya; dengan adanya bentuk pemersa­tu yang berarti ‘yang mempersatukan’, kita dapat membentuk kon­struksi pemerhati (‘yang memperhatikan’); dan, dengan ada­nya pasangan bentuk penyuruh dan pesuruh (yang masing­‑ma­sing berarti ‘orang yang menyuruh’ dan ‘orang yang disuruh’), kita dapat membentuk pasangan konstruksi penatar dan pe­tatar, pendaftar dan pedaftar. 


E.Problema Akibat Perlakuan Kluster

Kluster atau konsonan rangkap mengundang problema ter­sen­diri dalam pembentukan kata bahasa Indonesia. Hal ini disebabkan bahwa kata bahasa Indonesia asli tidak mengenal klus­ter. Kata yang berkluster (yang dipakai dalam bahasa Indonesia) itu berasal dari unsur serapan, misalnya program, pro­kla­masi, prakarsa, traktir, transfer, transkripsi, sponsor, standar, skala, klasifikasi, kritik, kronologi

F.Problema Akibat Proses Morfologis Unsur Serapan

Masalah ini ada kesamaan dengan masalah sebelumnya, ya­itu berkenan dengan perlakuan unsur asing. Hanya saja, yang menjadi tekanan di sini adalah proses morfologisnya. Sebelum menjawab persoalan itu kiranya perlu diketahui si­­fat atau kondisi bentuk serapan. Pada dasarnya, bentuk serap­an dapat dikelompokkan menjadi dua: 

(1) bentuk serapan yang sudah lama menjadi keluarga bahasa Indonesia sehingga su­­dah tidak terasa lagi keasingannya, dan 
(2)bentuk serapan yang masih baru sehingga masih terasa ke­asingannya. 

Bentuk se­rapan kelompok pertama dapat diperlakukan secara pe­nuh mengikuti sistem bahasa Indonesia, termasuk proses mor­­fologisnya, sedangkan kelompok kedua belum dapat di­perlakukan secara penuh mengikuti sistem bahasa Indonesia. Ber­dasarkan rambu‑rambu ini, kiranya kita dapat menyikapi apakah bentuk terjemah sudah lama terserap ke dalam bahasa Indonesia atau be­lum. Kalau sudah lama, berarti bentuk serapan itu patut di­perlakukan secara penuh mengikuti sistem bahasa Indonesia. Dengan demikian, apabila bentuk terjemah dig­abung dengan {meN‑kan} akan menjadi menerjemahkan sebab, berdasarkan sis­tem bahasa Indonesia, fon [p] yang mengawali bentuk da­sar akan luluh apabila bergabung dengan afiks {meN‑(kan/i)} dan {peN‑(an)}. Bagaimana dengan bentuk sup­lai, parkir, dan kalkula­si? Silakan disiasati!

G.Problema Akibat Perlakuan Bentuk Majemuk Problema morfologis terakhir yang berhasil dicatat di sini ada­lah problema akibat perlakuan bentuk majemuk. Problema itu terlihat pada persaingan pemakaian bentuk pertanggungja­wab­an dan pertanggungan jawab, kewarganegaraan dan kewargaan ne­gara, menyebarluaskan dan menyebarkan luas. Dari contoh itu ter­­­­lihat dua perlakuan bentuk majemuk, yaitu bentuk majemuk yang unsur-unsurnya dianggap sebagai satu kesatuan, dan ben­­­­tuk majemuk yang unsur‑unsurnya dianggap renggang. Pen­­­dapat pertama menganggap unsur‑unsur bentuk tanggung jawab, warga negara, dan sebar luas padu sehingga tidak mung­k­in disisipi bentuk lain di antaranya. Apabila ditempeli awalan atau akhiran, misalnya, itu harus diletakkan di awal unsur per­ta­ma dan atau di akhir unsur kedua. Sebaliknya, pendapat ke­dua meng­anggap unsur‑unsur bentuk tanggung jawab, warga ne­gara, dan sebar luas renggang sehingga memungkinkan di­si­si­pi bentuk lain di antaranya. Oleh sebab itu, ketiga bentuk itu dapat dibentuk menjadi konstruksi pertanggungan jawab, kewargaan ne­gara, dan menyebarkan luas.

Diterbitkan oleh ekanurlaily186011

Semoga menjadi Amal Jariyah dan selalu bermanfaat, Terima kasih sudah mengunjugi Blog ini :)

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai